jatim.jpnn.com, SURABAYA - Sepanjang tahun 2025, wajah penanggulangan kedaruratan di Kota Surabaya menunjukkan fakta menarik. Alih-alih didominasi bencana alam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya justru paling banyak menangani kasus darurat medis dan kecelakaan lalu lintas.
Total ada 18.703 kejadian yang ditangani BPBD sepanjang tahun. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya merupakan darurat medis dengan 9.848 laporan, disusul kecelakaan sebanyak 7.318 kejadian. Sementara itu, kasus bencana alam seperti pohon tumbang, kebakaran, hingga angin kencang jumlahnya jauh lebih kecil.
Ketua Tim Operasional Kedaruratan BPBD Surabaya Arif Sunandar Pranoto Negoro menyebut tingginya kasus medis menunjukkan peran BPBD yang semakin luas, tidak lagi sebatas kebencanaan.
“Sebagian besar laporan yang masuk justru bersifat kemanusiaan dan medis,” ujar Arif, Rabu (7/1).
Dari ribuan kasus medis tersebut, 6.325 orang harus dirujuk ke fasilitas kesehatan, sementara 2.827 korban ditangani langsung di lokasi. BPBD juga mencatat 696 pembuatan surat kematianselama proses penanganan. Selain itu, BPBD turut menangani berbagai kejadian lain seperti 511 kebakaran, 272 penemuan jenazah, 270 pohon tumbang, 160 genangan, serta 130 rumah rusak.
Kerusakan rumah paling banyak disebabkan faktor usia bangunan yang lapuk, disusul dampak hujan dan robohnya atap maupun dinding. Untuk kasus pohon tumbang, dampak paling sering terjadi pada akses jalan dan lalu lintas, bahkan sebagian menimpa kendaraan, bangunan, hingga warga.
Kemudian kebakaran kerap dipicu dari kompor, tumpukan barang atau sampah, hingga merembet ke kendaraan dan jaringan kabel.
“Kecelakaan lalu lintas menjadi perhatian serius. Jalan Ahmad Yani tercatat sebagai lokasi dengan kejadian tertinggi, disusul Jalan Ir Soekarno, Diponegoro, Kenjeran, dan Kedung Cowek,” katanya.



















































