jpnn.com - Koordinator LBH Arus Bawah Prabowo (ABP) Steven Pailah menyoroti pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dinilai tidak tepat, terutama dalam menggambarkan konsep keagamaan yang dikaitkan dengan konflik di Poso dan Ambon.
LBH ABP mengutip omongan JK dalam video yang beredar di media sosial, menyampaikan bahwa konflik bernuansa agama kerap sulit dihentikan karena adanya keyakinan dari masing-masing pihak terkait konsep "syahid".
Berikut penggalan pernyataan JK tersebut:
"Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Semua pihak. Kristen juga berpikir begitu. ‘Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid’. Akhirnya susah berhenti," ujar JK.
Steven menilai pernyataan tersebut problematik, karena menyamakan konsep teologis yang berbeda secara mendasar.
Dalam ajaran Kristen, katanya, tidak dikenal doktrin yang membenarkan tindakan membunuh sebagai jalan menuju kemuliaan atau "syahid".
Steven menyebut pernyataan JK berpotensi menyesatkan pemahaman publik jika tidak diluruskan.
"Pernyataan itu tidak tepat. Dalam tradisi Kristen tidak ada ajaran yang membenarkan membunuh orang lain sebagai jalan memperoleh kemuliaan spiritual. Konsep martir dalam Kekristenan justru merujuk pada kesediaan menderita atau wafat tanpa kekerasan, bukan sebaliknya," ujar Steven dala siaran pers, Sabtu (11/4).






















































