jatim.jpnn.com, TRENGGALEK - Kondisi tanah di lokasi longsor Km 16 jalur nasional Trenggalek–Ponorogo, tepatnya di Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek masih labil dan berpotensi terjadi longsor susulan.
Koordinator Pos Basarnas Trenggalek Bayu Prasetyo mengatakan hasil asesmen menunjukkan tekstur tanah di lokasi terdampak lebih menyerupai lumpur sehingga rawan pergerakan.
"Untuk asesmen, kami menurunkan beberapa anggota ke titik longsor di bagian atas. Ada beberapa titik longsoran, yang terbesar berupa batu, dan di sebelah kanannya terdapat longsoran baru," kata Bayu, Rabu (4/3).
Menurut dia, minimnya vegetasi penahan turut memperparah kondisi lereng. Sebagian besar area di atas tebing hanya ditumbuhi rumput dan semak sehingga daya ikat tanah relatif lemah.
Tim juga menemukan jalur aliran air baru di lereng. Saat curah hujan tinggi, aliran tersebut berpotensi terisi air, namun ujungnya buntu sehingga air meresap ke dalam tanah dan membuat kondisi semakin jenuh.
"Secara visual masih ada batu besar yang tertanam. Itu juga berpotensi bergerak jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi," ujarnya.
Bayu menambahkan, keberadaan lahan persawahan di atas bukit diduga ikut memicu kejenuhan tanah. Air yang tertahan di area persawahan membuat tanah terus menyerap air dan kehilangan daya dukungnya.
"Air di sawah ditampung agar tidak langsung mengalir sehingga tanah semakin jenuh," katanya.
















































