Pelajar SMAN 5 Bandung Meninggal Dunia Dikeroyok, Pengamat Singgung Jam Malam Gagasan Dedi Mulyadi

2 hours ago 11

Minggu, 15 Maret 2026 – 07:00 WIB

Pelajar SMAN 5 Bandung Meninggal Dunia Dikeroyok, Pengamat Singgung Jam Malam Gagasan Dedi Mulyadi - JPNN.com Jabar

Ilustrasi pengeroyokan. Ilustrator: dokumen JPNN.com

jabar.jpnn.com, DEPOK - Praktisi Pendidikan, Itje Chodidjah turut angkat bicara terkait aksi pengeroyokan pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 5 Bandung yang viral di media sosial.

Dalam kejadian tersebut, satu pelajar dinyatakan meninggal dunia.

Itje menuturkan, pendidikan sejatinya adalah pencegahan, bukan pemantauan ketika sesuatu telah terjadi.

“Nah, anak-anak sudah SMA itu kan bukan karena pendidikan di SMA, tetapi mereka tumbuh dari PAUD sampai SMP. Apa yang sudah ditanam kepada mereka? Kok nggak jadi apa-apa gitu dalam aspek moral dan sosialnya? Artinya, itu tidak jadi apa-apa,” ucap Itje, dikutip Minggu (15/3/2026).

Dia menyebut, paradigma masyarakat kerap menganggap penguasaan akademik menjadi tolak ukur keberhasilan siswa di sekolah. Padahal, perkembangan karakter sama pentingnya dengan akademik.

“Anak SMA enggak mendadak besar, enggak mendadak tiba-tiba berkarakter seperti mereka yang sampai mereka melakukan pengeroyokan, tawuran. Tetapi kan itu tumbuh dari sejak SD,” ungkapnya.

?“Jadi, kita ini darurat pendidikan sebenarnya. Kenapa? Karena anak-anak itu datang ke sekolah seolah-olah hanya menerima tuntutan untuk kemudian diuji, tetapi tidak secara seutuhnya, tidak secara benar-benar ditumbuhkan menjadi anak-anak yang sehat secara moral maupun akademik,” tegasnya.

Menurutnya, ada yang keliru dalam karakteristik anak saat ini, sehingga begitu di SMA, anak sudah mulai merasa ingin mandiri, merasa kuat.

Praktisi pendidikan sebut pengeroyokan yang terjadi di Bandung hingga menewaskan satu pelanjar merupak bentuk darurat pendidikan

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jabar di Google News

Read Entire Article
| | | |