jpnn.com - Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia (JMAI) telah meluncurkan buku berjudul Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan & Kerja Kemanusiaan di Wisma Rahmat Ali, Jakarta Pusat pada Selasa (20/1/1026).
Kegiatan peluncuran buku tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari beragam latar belakang. Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia Zaki Firdaus Sahid S.T, M.T, sebagai keynote speaker.
Diskusi juga menghadirkan intelektual muda NU, Hery Haryanto Azumi, Dekan Fakultas Ushuludin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus editor buku, Prof. Ismatu Ropi, tokoh lintas iman, Pdt. Gomar Gultom, serta tokoh muda pegiat keberagaman dan isu gender, Mila Muzakkar. Diskusi dipandu oleh Dedy Ibmar, peneliti PPIM dan editor buku.
Selain itu, turut hadir Menteri Agama RI periode 2014–2019 sekaligus penulis dalam buku, Dr. (HC) Lukman Hakim Saifuddin, Komisioner Komnas Perempuan sekaligus penulis dalam buku, Daden Sukendar, perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jakarta Utara, Bapak Nur, serta sejumlah tokoh dan undangan lainnya.
Buku tersebut merekam perjalanan 100 tahun kehadiran Muslim Ahmadiyah di Indonesia sebagai refleksi perjumpaan, persahabatan, dan kerja-kerja kemanusiaan Jemaat Muslim Ahmadiyah bersama para tokoh bangsa, yang ditulis oleh 100 tokoh Indonesia non-Ahmadiyah berdasarkan fakta, pengalaman langsung, dan keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan.
Seratus tahun lalu, kehadiran Ahmadiyah di Indonesia bermula bukan dari datangnya Ahmadiyah ke Nusantara, melainkan dari pemuda-pemuda Nusantara yang mendatangi Ahmadiyah di Qadian, Hindustan.
Pada tahun 1923, tiga pemuda lulusan Sumatera Thawalib Padang Panjang, Abu Bakar Ayyub, Ahmad Nuruddin, dan Zaini Dahlan berangkat menuntut ilmu dan menyambangi Khalifatul Masih II ra, Hadhrat Mirza Bashirudin Mahmud Ahmad ra. Kemudian pada tahun 1924, belasan pelajar Nusantara tercatat telah berada di Qadian untuk belajar di Jamiah Ahmadiyah.
Dalam sebuah jamuan bersama Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra, setelah khalwat beliau mengenalkan Islam Ahmadiyah di Eropa, para pelajar Nusantara menyampaikan permohonan agar dikirimkan mubaligh ke Timur, termasuk Nusantara. Permohonan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pengutusan Maulana Rahmat Ali HAOT.


















































