jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) mulai memprioritaskan penguatan infrastruktur sungai. Tahun ini, anggaran sebesar Rp 7,5 miliar dialokasikan khusus untuk pembangunan talud guna mengantisipasi gerusan arus air dan potensi longsor.
Berdasarkan data DPUPKP, dari total 25.040 meter talud yang ada di Yogyakarta, sekitar 69,26 persen saat ini dalam kondisi baik. Sedangkan sisanya masih memerlukan penanganan secara bertahap.
Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPUPKP Kota Yogyakarta Rahmawan Kurniadi mengatakan bahwa proyek pembangunan tahun ini difokuskan di sepanjang aliran Sungai Winongo.
Pengerjaan dibagi ke dalam dua paket utama, yakni wilayah bener dan wilayah pakuncen.
Selain dua lokasi prioritas tersebut, Pemkot juga melakukan penanganan insidentil di beberapa titik rawan lainnya, seperti di kawasan Ngampilan, Baciro, dan Gambiran.
Rahmawan mengungkapkan bahwa banyak talud di Yogyakarta yang saat ini mengalami kerusakan karena faktor usia dan material lama.
“Kebanyakan yang rusak itu struktur lama. Rata-rata masih batu kali. Kalau sudah lama dan terus tergerus arus memang rawan,” ujar Rahmawan, Senin (23/2).
Untuk meningkatkan ketahanan, pihak DPUPKP kini menerapkan standar konstruksi baru yang lebih kokoh.
















































