jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadia menurunkan kuota produksi batu bara dan nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) mendapat respon positif dari kalangan akademisi di Bandung.
Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai pemangkasan produksi merupakan langkah yang tepat untuk mengembalikan keseimbangan pasar.
Menurut dia, harga batu bara Indonesia sempat berada pada level yang kurang kompetitif akibat produksi yang terlalu besar.
"Dengan mengurangi produksi, harga bisa menjadi lebih stabil sehingga para pengusaha batu bara masih bisa memperoleh margin keuntungan yang wajar," kata Yayan dalam diskusi bertajuk 'Swasembada Energi di Era Presiden Prabowo' di Bandung, Selasa (20/1/2026).
Kebijakan serupa, sambung Yayan, juga diterapkan pada nikel, komoditas di mana Indonesia menguasai sekitar 50–60 persen pasokan global.
Penurunan RKAB nikel dilakukan setelah pasar mengalami kelebihan pasokan yang menekan harga dan menciptakan ketidakpastian bagi investor.
"Dengan penurunan RKAB, harga nikel bisa distabilkan kembali. Ini penting bagi investor, karena mereka butuh kepastian harga untuk mengambil keputusan jangka panjang," ucapnya.
Ia menjelaskan, pembatasan produksi membawa dua dampak sekaligus.


















































