jpnn.com, BANDUNG - Wakil Ketua MPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menegaskan pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan teknologi informasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan energi yang bersih, stabil, dan berkelanjutan.
Penegasan tersebut disampaikannya saat menyampaikan pidato kunci dalam rangkaian acara MPR Goes to Campus di Kampus Bina Nusantara (Binus) Bandung.
Dalam paparannya, Eddy menekankan transformasi digital yang tengah berlangsung di seluruh dunia menuntut dukungan infrastruktur energi yang memadai.
Mulai dari data center, cloud computing, serta sistem AI membutuhkan konsumsi listrik yang sangat besar.
Oleh karena itu, Indonesia perlu mempercepat transisi menuju energi terbarukan agar mampu menopang perkembangan teknologi tersebut secara berkelanjutan.
“Perkembangan teknologi seperti artificial intelligence, big data, dan cloud computing membutuhkan energi dalam jumlah sangat besar. Jika ingin Indonesia menjadi pemain penting dalam ekonomi digital global, maka kita harus memastikan pasokan energi yang cukup, stabil, dan semakin bersih,” ujar Eddy.
Doktor Ilmu Politik UI ini menjelaskan negara-negara yang menjadi pusat pengembangan AI global saat mulai memprioritaskan penggunaan energi terbarukan untuk mengoperasikan pusat data mereka.
“Perusahaan teknologi global seperti Google, Microsoft, hingga Amazon menempatkan energi terbarukan sebagai fondasi operasional data center mereka. Ini soal keberlanjutan lingkungan, sekaligus juga soal efisiensi, stabilitas energi, dan daya saing ekonomi,” jelasnya.




















































