jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Rencana pemerintah untuk membuka pintu bagi investasi asing di subsektor ayam petelur mendapat sorotan tajam dari akademisi. Guru Besar Sosial Ekonomi Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Budi Guntoro menilai kebijakan tersebut perlu dikaji ulang secara mendalam karena industri telur nasional saat ini justru tengah mengalami kondisi surplus.
Berdasarkan data yang dipaparkan Prof Budi, produksi telur ayam nasional pada 2025 tercatat mencapai 6,34 juta ton, sementara konsumsi nasional hanya berada di kisaran 6,22 juta ton.
Angka produksi ini diproyeksikan akan terus melonjak hingga melampaui 6,5 juta ton pada tahun ini.
"Artinya, Indonesia tidak sedang kekurangan telur, melainkan menghadapi surplus yang bersifat struktural," jelasnya dalam keterangan resmi di Yogyakarta.
Menurutnya, masalah utama yang dihadapi saat ini bukanlah kurangnya pasokan, melainkan fluktuasi harga yang tidak stabil dan lemahnya posisi tawar peternak rakyat di hadapan pasar.
Budi mengkhawatirkan masuknya modal asing akan memicu konsentrasi pasar yang hanya dikuasai segelintir korporasi besar.
Hal ini dianggap berbahaya bagi keberlangsungan peternakan rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi lokal dan penyerap tenaga kerja di daerah.
Ia menegaskan bahwa kedaulatan pangan bukan sekadar mengejar angka produksi, tetapi juga memastikan siapa yang memproduksi.


















































