jpnn.com - Indeks Desa tidak boleh dipandang hanya sebagai instrumen statistik untuk mengukur kondisi desa, melainkan harus menjadi kompas kebijakan yang mengarahkan transformasi sosial menuju desa yang mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan.
Demikian disampaikan Penasihat Menteri Desa dan Pembangunan Desa Tertinggal (PDT) Prof. Zainuddin Maliki, dalam forum Reformulasi Instrumen Indeks Desa Tahun 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan Kemendes di Jakarta Rabu (8/7/2026).
Dalam paparan bertajuk Perspektif Sosiologi Pembangunan Desa dalam Penentuan Pembobotan Enam Dimensi Indeks Desa, Prof. Zainuddin menegaskan bahwa Menteri Yandri Susanto menggeser visi dari "membangun desa" menjadi "bangun desa bangun Indonesia.
"Dengan pendekatan tersebut, Indeks Desa tidak hanya dijadikan alat menentukan status desa, tetapi juga menjadi dashboard nasional pembangunan desa yang mampu mengarahkan kebijakan, mengukur dampak program, serta mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, produktif, berdaya saing global, dan berkelanjutan," ungkapnya.
Sekretaris Eksekutif Unit Kebijakan Strategis Program TEKAD Kemendes PDT itu menuturkan bahwa desa tidak lagi diposisikan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai pusat produksi pangan, simpul investasi, basis industri dan pusat pertumbuhan ekonomi nasional berbasis sumber daya lokal.
Dalam forum pembobotan enam dimensi Indeks Desa yang dikuti Kemendagri, Bappenas, Setneg, Kemenkeu, BPS, Kemendikdasmen dan stakeholders strategis Kemendes lainnya, Prof. Zainuddin menegaskan bahwa tidak semestinya Indeks Desa hanya didasarkan pada pembagian yang sama rata, tetapi harus mempertimbangkan daya ungkit yang menjadi leverage effect masing-masing dimensi terhadap kemajuan desa secara keseluruhan.
"Sejumlah riset sosiologi pembangunan menunjukkan tidak semua dimensi memiliki pengaruh yang sama. Ada dimensi yang menjadi fondasi dan penggerak bagi dimensi lainnya. Karena itu, pembobotan harus mencerminkan hubungan sebab-akibat dalam proses pembangunan desa," ungkap penulis buku Narasi Agung Tiga Teori Sosial Hegemonik itu.
Dia menjelaskan bahwa dimensi seperti pelayanan dasar, kualitas sumber daya manusia, dan kelembagaan desa memiliki pengaruh besar dalam meningkatkan produktivitas ekonomi, memperkuat partisipasi masyarakat, mengurangi kemiskinan, serta membangun ketahanan sosial.

















































