jpnn.com - Pun saya. Berburuk sangka pada James Rachman Radjimin. Juga pada almarhum Ali Mahakam. Pun pada Sindunata Sambhudi.
Ketika mereka dalam kondisi vegetatif saya pikir hidupnya sudah seperti hidupnya tanaman. Atau sayuran. Kesannya negatif.
Sabtu kemarin, di hari ketika pemilik Hotel JW Marriott Surabaya itu dimakamkan, saya minta maaf kepada mereka --teman-teman saya itu.
Berarti saya juga sempat berburuk sangka pada ilmu pengetahuan. Istilah vegetatif ternyata diciptakan bukan untuk menghinakan orang sakit. Menurut berbagai literatur, istilah itu dilakukan justru untuk menghormati kehidupan.
Anda sudah tahu: dalam bahasa Yunani vegetare berarti hidup. Atau tumbuh. Tapi vegetativus sesuatu yang menyangkut dasar-dasar kehidupan. Artinya orang yang vegetatif berarti orang hidup.
Secara moral itu penting --kalau Anda masih mementingkan moral di zaman serba ”wani piro” ini.
Dokter tidak akan mau melakukan permintaan keluarga: euthanasia. Dimatikan saja. Ini karena orang yang dalam keadaan vegetatif batang otaknya masih hidup.
Etika yang lain: organnya tidak boleh didonorkan. Kalau sampai hatinya diambil separo, bisa mengancam hidup vegetatif-nya. Tidak boleh juga diambil salah satu ginjalnya. Orang yang vegetatif mudah terkena infeksi. Padahal salah satu prinsip donasi organ adalah: tidak boleh mengancam kehidupan pendonor.

.jpeg)




















































