Pameran Maen Setu Babakan hiidupkan kembali aneka permainan tradisional Betawi. Foto: Berita Jakarta
KabarJakarta.com – Suasana permainan tradisional kembali hadir di Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Lewat pameran temporer tahunan, Unit Pengelola Kawasan (UPK) PBB Setu Babakan mengajak masyarakat, terutama generasi muda, mengenal kembali permainan rakyat yang mulai jarang ditemui di tengah perkembangan teknologi.
Pameran bertema “Saban Maen Bikin Girang, Hiburan Jadul yang Kagak Ilang” itu digelar sekaligus untuk menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. Berbagai permainan tradisional Betawi ditampilkan, mulai dari dampu, pletokan, hingga permainan karet.
Kepala UPK PBB Setu Babakan Debby Novita Andriani menjelaskan kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan untuk membangkitkan kenangan masa lalu. Menurut dia, permainan tradisional menyimpan nilai yang masih relevan bagi kehidupan anak-anak dan generasi muda saat ini.
“Ini lebih dari sekadar nostalgia. Kegiatan bertujuan memperkenalkan kembali nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, pengendalian diri, dan kerja sama yang terkandung dalam permainan rakyat kepada generasi muda,” kata Debby di Jakarta, Minggu (16/8).
Pemilihan kata maen dalam tema pameran juga bukan tanpa alasan. Istilah tersebut sengaja digunakan untuk memperkuat identitas Betawi. Bagi masyarakat Betawi, bermain tidak semata-mata soal siapa yang menang atau kalah.
“Bermain adalah tentang kebersamaan, bersabar, belajar mengalah, dan melatih pengendalian diri agar hati jadi girang,” ujarnya.
Menurut Debby, permainan rakyat perlu terus dirawat sebagai bagian dari pemajuan kebudayaan. Terlebih, perubahan gaya hidup akibat modernisasi membuat anak-anak semakin akrab dengan permainan berbasis perangkat digital dibandingkan permainan yang dilakukan secara langsung bersama teman.
“Sebagai satu-satunya pusat edukasi dan laboratorium budaya Betawi milik Pemprov DKI Jakarta, Setu Babakan terus berkomitmen memperkuat identitas kebudayaan lokal di tengah transformasi Jakarta menuju kota global,” katanya.
Pameran itu tidak hanya menyuguhkan berbagai koleksi permainan tradisional. Pengunjung juga dapat mengikuti rangkaian kegiatan pengetahuan atau knowledge management, seperti lokakarya musik Gambang Kromong dan pelatihan membuat bir pletok, minuman khas Betawi yang pengaturannya tercantum dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 11 Tahun 2017.
Pelestarian budaya, kata Debby, juga membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Karena itu, pendekatan pentaheliks diterapkan dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, perguruan tinggi, dan sektor swasta.
Ia berharap pameran tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih dari itu, permainan tradisional diharapkan kembali menjadi bagian dari aktivitas anak-anak dan generasi muda.
“Melalui permainan ini, kita akan mengembangkan karakter dan jati diri melalui kebersamaan, pengendalian emosi, termasuk kejujuran,” ucap Debby.
Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai permainan tradisional dapat menjadi sumber pengetahuan yang penting bagi generasi muda.
“Kegiatan ini akan menjadi aset pengetahuan yang penting bagi generasi muda,” kata Widyastuti.
Menurut dia, generasi muda, termasuk Gen Z, perlu memiliki keseimbangan dalam menggunakan teknologi. Permainan tradisional dapat menjadi salah satu cara untuk mengenalkan kembali interaksi sosial secara langsung sekaligus menjaga warisan budaya.
Debby pun mengingatkan generasi muda agar tidak hanya menjadikan ruang digital sebagai sumber untuk melihat dunia. Mengenal sejarah, bermain bersama, dan merawat budaya lokal tetap penting agar perkembangan zaman tidak membuat identitas budaya Betawi semakin jauh dari kehidupan sehari-hari.

7 hours ago
27

















































