bali.jpnn.com, BULELENG - Semangat Hari Raya Nyepi terpancar hingga ke pelosok desa di Kabupaten Buleleng, Bali.
Umat Hindu di wilayah pedesaan turut menggelar pawai ogoh-ogoh sebagai simbolisasi Bhuta Kala, yakni representasi energi negatif dalam ajaran Hindu yang harus diselaraskan.
Ketua Sanggar Seni Wahana Santhi Desa Umejero Ketut Pany Ryandy mengatakan ogoh-ogoh bukan sekadar tontonan seni tahunan.
"Bhuta Kala mencerminkan sifat-sifat buruk manusia seperti amarah, keserakahan, dan kebodohan.
Sifat-sifat ini harus 'dilebur' sebelum melaksanakan Catur Brata Penyepian,” ujar Ketut Pany Ryandy, Rabu (18/3) kemarin.
Menurut Ketut Pany Ryandy, tradisi ini sarat akan makna spiritual untuk mengendalikan sifat adharma (buruk) dalam diri manusia.
Selain itu, proses pembuatannya menjadi wadah edukasi bagi generasi muda.
"Anak-anak muda tidak hanya mengasah kreativitas seni rupa, tetapi juga belajar memahami filosofi keseimbangan antara Bhuana Alit (diri sendiri) dan Bhuana Agung (alam semesta)," kata Ketut Pany Ryandy dilansir dari Antara.


















































