jpnn.com, JAKARTA - Lembaga pengawas kebijakan publik, Sentinel, mengkritik keras penunjukan bos Patra Niaga. Kritik ini menyoroti sejumlah isu, mulai dari kinerja operasional, proyek digitalisasi, hingga dugaan praktik kartel transportir BBM.
Sentinel menilai keputusan ini kontradiktif dengan agenda reformasi BUMN yang dicanangkan Presiden. Lembaga ini juga menyoroti rekam jejak Mars Ega yang dinilai kurang memuaskan, dengan catatan maraknya kekosongan BBM di berbagai SPBU di wilayah strategis.
Isu utama yang disoroti adalah produksi Biosolar B40 Performance. Direktur Eksekutif Sentinel, Ronal Jefferson, mengungkapkan adanya indikasi maladministrasi dalam pengadaan zat aditif Afton Chemical melalui penunjukan langsung.
"Kami menemukan indikasi bahwa pencampuran aditif tidak dilakukan melalui proses blending terintegrasi di kilang, melainkan dicampur secara manual di tangki unit pelaksana. Ini adalah praktik 'oplosan' skala industri yang berisiko menurunkan spesifikasi bahan bakar yang diterima konsumen di Sumbagsel," ujar Ronal Jefferson di Jakarta, Jumat (6/2).
Kritik juga diarahkan pada kegagalan proyek digitalisasi 5.518 SPBU senilai Rp 3,6 triliun yang diduga mengalami rekayasa spesifikasi teknis. Kegagalan ini dinilai berkorelasi dengan kebocoran solar bersubsidi ke sektor yang tidak berhak.
"Ada pembiaran sistemik di mana solar subsidi terus mengalir ke sektor perkebunan dan pertambangan ilegal. Kegagalan digitalisasi ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan indikasi 'pintu belakang' yang sengaja tidak dikunci rapat," tegas Ronal Jefferson.
Sentinel juga mengungkap dugaan praktik persaingan tidak sehat dalam pengelolaan vendor transportasi BBM di lingkungan Patra Niaga. Lembaga ini menduga adanya pola kartel atau oligopoli dalam penunjukan vendor kapal dan mobil tangki.
Atas temuan-temuan tersebut, Sentinel mendesak Kementerian BUMN dan pemerintah untuk mengevaluasi penunjukan ini. Lembaga itu juga mendorong KPK dan Kejaksaan Agung untuk mendalami kasus ini demi memulihkan integritas Pertamina Patra Niaga. (jpnn)






















































