jatim.jpnn.com, JOMBANG - Rais Syuriah PCNU Lombok Tengah TGH Ma'arif Makmun mengungkap sejumlah kriteria sosok ideal yang layak mengisi Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam struktur kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU).
Hal tersebut disampaikan TGH Ma'arif saat menghadiri talkshow dalam agenda Mimbar Muktamar NU yang digelar Suluh Nahdliyin bekerja sama dengan Gerakan Nahdliyin Bersatu dan Padasuka TV di Ponpes Al Maliki 2 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8).
Menurut TGH Ma'arif, Muktamar Ke-35 NU memiliki suasana berbeda dibandingkan muktamar sebelumnya. Antusiasme warga Nahdliyin untuk hadir di Tambakberas, kata dia, sangat tinggi.
"Muktamar ini luar biasa. Semua orang ingin datang ke sini. Sebetulnya NTB juga siap menjadi tuan rumah, tetapi Allah sudah menakdirkan Muktamar NU kali ini bertempat di Tambakberas, di tempat salah satu muassis PBNU," ujarnya.
TGH Ma'arif menyatakan dukungannya terhadap mekanisme AHWA dalam pemilihan Rais Aam PBNU. Namun, dia menekankan anggota AHWA harus diisi ulama yang memiliki kapasitas keilmuan, ketajaman dalam membaca persoalan, tingkat kewaraan yang tinggi, serta mendapat penerimaan luas dari kalangan Nahdliyin.
"Saya sangat setuju AHWA. Karena itu, AHWA harus diisi oleh ulama yang punya kejelian, keilmuan, kewaraan tinggi, diterima oleh Nahdliyin, dan punya kemampuan menyelesaikan setiap persoalan di PBNU," katanya.
Dia bahkan mendorong agar AHWA tidak hanya bersifat temporer dan bekerja ketika pemilihan Rais Aam berlangsung. Menurutnya, AHWA idealnya dipermanenkan sehingga para ulama yang tergabung di dalamnya tetap memiliki fungsi strategis setelah proses pemilihan selesai.
"Saya sangat setuju AHWA dipermanenkan. Tugasnya tidak hanya mengangkat Rais Aam saja, lalu setelah itu dibiarkan begitu saja. Saya rasa kalau fungsi mereka berlanjut tentu itu sangat baik," tuturnya.



















































