jateng.jpnn.com, SEMARANG - Dua tahun pemerintahan Agustina Wilujeng Pramestuti dan Iswar Aminuddin di Kota Semarang dinilai masih menyisakan sejumlah persoalan dalam arah pembangunan, mulai dari pemerataan manfaat pembangunan, penanganan banjir dan rob, hingga keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan.
Dalam Focus Group Discussion (FGD) Forum Media Online Semarang (FOMOS) bertajuk Dua Tahun Pembangunan Kota Semarang: Apa yang Berubah, Siapa yang Diuntungkan, dan Ke Mana Arah Politik Anggaran?, sejumlah narasumber menyoroti dengan pandangan masing-masing.
Ketua Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Mila Karmilah menyoroti sejumlah proyek pembangunan di kawasan pesisir Semarang yang dinilai berpotensi memengaruhi kehidupan masyarakat yang selama ini menggantungkan penghidupan dari kawasan tersebut.
Mila mencontohkan pembangunan tanggul laut yang sejak awal disebut bertujuan mengatasi kemacetan sekaligus mengurangi banjir. Menurutnya, pembangunan tersebut tetap perlu dikaji secara menyeluruh karena berpotensi memengaruhi pola aliran air dan kehidupan masyarakat pesisir.
“Pembangunan yang sekarang ada ini bukan ditolak sebenarnya. Hanya masalahnya perencanaannya yang tidak partisipatif,” kata Mila dalam diskusi di Hotel Up Peak Semarang, Kamis (27/8).
Dia menilai masyarakat sering kali baru mengetahui proyek pembangunan setelah rencana tersebut berjalan. Kondisi itu membuat warga, khususnya nelayan, tidak memiliki ruang yang cukup untuk menyampaikan kebutuhan maupun kekhawatiran mereka.
Mila juga menyoroti dampak pembangunan tanggul laut terhadap nelayan dan ekosistem pesisir. Kondisi tersebut, menurut dia, antara lain dirasakan masyarakat di Tambakrejo dan Bedono yang menggantungkan penghidupan dari hasil laut.
Salah satu yang disoroti adalah keberadaan kerang hijau. Menurut Mila, perubahan sirkulasi air akibat kawasan yang tertutup tanggul dapat memengaruhi habitat kerang hijau.



















































