jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyoroti konflik Iran vs Israel dan AS berdampak pada penutupan Selat Hormuz yang memasuk 20 persen suplai minyak mentah dunia.
Menurut Eddy, dinamika geopolitik ini menegaskan kembali urgensi ketahanan energi sekaligus mengakhiri ketergantungan Indonesia dari sumber energi impor.
“Di banyak kesempatan saya sampaikan bahwa urgensi ketahanan energi sama pentingnya dengan mewujudkan ketahanan nasional,” kata Eddy dalam keterangannya, Kamis (12/3).
Pimpinan MPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) itu mengatakan penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan adalah bukti Indonesia harus segera mengakhiri ketergantungan terhadap suplai energi dari sumber impor dan memperkuat infrastruktur energi di dalam negeri.
Pernyataan tersebut disampaikannya saat menyampaikan kuliah umum dalam rangkaian acara MPR Goes to Campus di kampus ke 46 yakni Universitas Kristen Petra Surabaya.
Acara dihadiri Rektor, jajaran wakil rektor dan ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas.
Salah satu upaya mengakhiri ketergantungan energi adalah dengan mempercepat transisi menuju energi terbarukan dengan berbasis sumber-sumber dalam negeri.
Eddy mengungkapkan Indonesia kaya dengan berbagai sumber energi terbarukan mulai dari sinar matahari, hydro, geotherma hingga angin. Potensinya mencapai 3.600 GW.






















































