bali.jpnn.com, DENPASAR - Kematian 200 hingga 300 pohon mangrove jenis Sonneratia Alba (Prapat), Rhizophora Apiculata (Bakau), dan Avicennia Marina (Api-api) di kawasan Pelindo Benoa menjadi perhatian peneliti Universitas Udayana (Unud).
Tim Peneliti Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana (Unud) turun tangan menguji sampel tanah mangrove di Benoa, Denpasar, Bali, pada 24 – 26 Februari 2026.
Tim peneliti RS Pertanian Unud ini terdiri dari Dr Dewa Gede Wiryangga Selangga, Dr Listihani, Ni Nyoman Sista Jayasanti, Restiana Maulinda, Wafa’ Nur Hanifah, dan Yuli Evrianti Br Raja Gukguk.
Para peneliti memakai metode analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) untuk menguji sampel tanah mangrove.
Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi dan menentukan komposisi senyawa kimia dalam sampel, terutama senyawa volatil (mudah menguap) atau semi volatil.
Hasilnya, tim peneliti RS Pertanian Unud menemukan 41 senyawa hidrokarbon atau minyak bumi yang sebagian besar ditemukan pada Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Dapat kami simpulkan bahwa sampel tanah mangrove positif tercemar oleh limbah minyak bumi, terutama diesel (solar),” kata Koordinator Tim peneliti Dr Dewa Gede Wiryangga Selangga dilansir dari Antara.
Dari hasil sampel tanah pada kawasan terdampak di sisi barat gerbang Tol Bali Mandara di Benoa, ditemukan ada 45 senyawa senyawa volatil, 41 diantaranya merupakan senyawa hidrokarbon.

















































