jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI Zulfikar Hamonangan mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai dampak konflik geopolitik global terhadap sektor pertanian nasional. Hal ini terutama berkaitan dengan potensi kenaikan harga pupuk yang dapat membebani para petani.
Menurut Zulfikar, eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi mengganggu rantai pasok energi serta bahan baku industri pupuk di tingkat dunia. Dampaknya diperkirakan akan merembes hingga ke dalam negeri.
"Ketika konflik geopolitik memanas, harga energi dan bahan baku pupuk biasanya ikut naik. Dampaknya langsung dirasakan petani karena biaya produksi meningkat," kata Zulfikar dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/3).
Legislator dari Partai Demokrat itu menilai kenaikan harga pupuk berisiko membuat petani menunda atau mengurangi masa tanam. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menurunkan produksi pertanian dan memicu kenaikan harga pangan, termasuk sayur-sayuran di pasaran.
Ia menambahkan, tekanan terhadap sektor pertanian juga dapat diperparah oleh potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat ketidakstabilan geopolitik global. Hal ini akan menambah beban biaya produksi dan distribusi hasil panen.
"Jika harga energi naik, biaya produksi dan distribusi juga ikut meningkat. Sementara kemampuan subsidi pemerintah terbatas untuk menahan kenaikan tersebut," ujarnya.
Selain faktor eksternal, Zulfikar menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku pupuk. Situasi ini membuat sektor pertanian domestik menjadi sangat rentan terhadap gejolak yang terjadi di pasar global.
"Selama kita masih bergantung pada impor bahan baku, setiap krisis global akan langsung berdampak pada sektor pertanian kita," kata dia.





















































