jpnn.com - JAKARTA - Katib Syuriyah PCNU Jombang 2017-2022 Kiai Ahmad Samsul Rijal atau biasa dipanggil Gus Rijal mengungkap bahwa banyak hal yang terjadi selama Konbes dan Munas NU, 20-22 Juni di Ploso, Kediri tidak terpublikasi kepada publik.
“Banyak pertemuan informal para fungsionaris PWNU se-Indonesia. Suara berbisik di antara mereka menghendaki perubahan total di PBNU,” ujar Gus Rijal.
Menurutnya, para pengurus PWNU lelah memikul beban perseteruan elite PBNU, yang dampaknya mengganggu kinerja di wilayah, cabang, dan ranting.
“Keluh kesah mereka jelas. Itu menunjukkan penegasan sikap dari PWNU-PCNU, baik di Jawa maupun luar Jawa terhadap PBNU. Ada rasa frustrasi terhadap perilaku dan manuver petinggi PBNU jelang muktamar 2026,” tuturnya.
Gus Rijal menjelaskan, sekitar 80% PWNU se Indonesia menginginkan perubahan total pada kepengurusan PBNU mendatang.
“Kami lelah melihat perpecahan dan perseteruan di PBNU saat ini. Konflik berkepanjangan,” katanya.
Gus Rijal pun menyinggung soal tempat pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang tidak segera ditetapkan.
"Rapat internal PBNU belum bersepakat tentang lokasi muktamar. Namun, forum 32 PWNU se-Indonesia melalui rakor daring meminta agar Muktamar ke-35 NU dilaksanakan di Jakarta saja. Paling siap, paling mudah dijangkau, dan paling memungkinkan untuk mempercepat koordinasi. Dengan waktu persiapan yang semakin pendek, Jakarta adalah pilihan yang paling realistis," ujarnya.





















































