jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi selama periode 22 hingga 28 Mei 2026 masih berada pada tingkat yang cukup tinggi. Hingga saat ini, status aktivitas gunung api teraktif di Indonesia ini masih ditetapkan pada Level III atau “SIAGA”.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso mengungkapkan bahwa suplai magma yang masih berlangsung menjadi pemicu utama aktivitas erupsi efusif dan potensi awan panas guguran.
"Data pemantauan kami menunjukkan suplai magma masih terus terjadi. Hal ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah bahaya yang telah kami tetapkan," ujar Agus Budi Santoso dalam keterangan tertulisnya.
Selama periode sepekan ini, BPPTKG mencatat fluktuasi aktivitas kegempaan yang cukup intens, meskipun secara keseluruhan intensitasnya sedikit lebih rendah dibandingkan minggu sebelumnya.
Tercatat 27 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 449 gempa Fase Banyak (MP), 1 gempa Low Frequency (LF), 802 gempa Guguran (RF), serta 9 gempa Tektonik (TT).
Secara visual, cuaca di sekitar puncak umumnya cerah pada pagi dan malam hari, tetapi kerap berkabut pada siang hingga sore hari.
Gunung Merapi terpantau mengeluarkan asap berwarna putih dengan ketebalan bervariasi dan tekanan lemah, dengan tinggi kolom asap mencapai maksimal 650 meter.
Guguran lava pun terpantau aktif ke arah beberapa sektor sungai, terutama ke hulu Kali Sat/Putih sebanyak 70 kali dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.


















































