jpnn.com - BATAM - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi gelombang tinggi saat fenomena Gerhana Matahari Cincin yang terjadi pada 17 Februari 2026.
Menurut Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam Ramlan Djambak, fenomena tersebut tidak dapat disaksikan di Indonesia, khususnya Kepulauan Riau, tetapi pada momen itu kondisi gelombang di wilayah Kepri masih cukup tinggi.
"Gelombang di sebagian wilayah Kepri, terutama Anambas dan Natuna, masih cukup tinggi karena angin Muson Barat masih aktif atau Angin Utara kalau di Kepri menyebutnya," kata Ramlan saat dikonfirmasi di Batam, Jumat (13/2).
Menurut dia, fenomena Gerhana Matahari Cincin tidak berpengaruh langsung terhadap cuaca di wilayah Kepri. Menurut dia, periode gerhana, terjadi secara periodik.
Namun, saat ini kondisi cuaca Kepri sudah mulai ada hujan. Berbeda dengan awal Januari hingga awal Februari yang berlangsung selama 35 Hari Tanpa Hujan (HTH).
"Kondisi cuaca Kepri sudah mulai ada hujan sebagian, walau masih hujan-hujan ringan," ujarnya. Oleh karena itu, lanjut dia, diprediksi cuaca Kepri pada Bulan Ramadan bisa dirasakan sejuk.
Untuk cuaca maritim, ketinggian gelombang di Kepri pada periode 17 Februari itu masih cukup tinggi, terutama di daerah Anambas dan Natuna.
"Kecepatan angin yang cukup tinggi dan berimbas kepada ketinggian gelombang laut sudah berlangsung beberapa minggu yang lalu dan masih berlangsung hingga 17 Februari," ujarnya.
Kenaikan gelombang ini perlu diwaspadai bagi transportasi laut yang ada di wilayah Kepri, khususnya Anambas dan Natuna. Nelayan maupun nakhoda kapal diimbau memperhatikan kondisi cuaca saat berlayar pada periode tersebut.




















































