jpnn.com, JAKARTA - Air minum yang tampak jernih belum tentu aman dikonsumsi, terutama bagi anak-anak, berdasarkan temuan penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Environmental Research and Public Health (IJERPH) tahun 2026.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan RSCM, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK, menyebut kualitas air memiliki peran besar dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak.
“Kualitas air memiliki hubungan yang lebih besar dari yang selama ini dipahami, terutama dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak,” ujarnya, Jumat (10/4).
Penelitian yang dilakukan Tria Rosemiarti, Diana Sunardi, dan Netta Meridianti Putri tersebut menelaah 15 jurnal ilmiah dari berbagai negara dalam kurun waktu 15 tahun.
Hasil kajian menunjukkan bahwa kontaminasi mikrobiologis air, khususnya oleh bakteri Escherichia coli, dapat meningkatkan risiko stunting hingga 4,14 kali.
Temuan ini dinilai penting di tengah upaya pemerintah menekan prevalensi stunting nasional dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Dalam publikasi tersebut dijelaskan bahwa kontaminasi air tidak selalu terjadi di sumber, melainkan sering muncul di titik penggunaan seperti saat air disimpan, didinginkan, atau dipindahkan ke wadah konsumsi.
Beberapa studi bahkan menemukan air yang tampak jernih secara visual tetap mengandung E. coli dalam jumlah signifikan.






















































