jatim.jpnn.com, SURABAYA - Keterlambatan waktu sandar dan bongkar muat kapal menjadi sorotan di tengah meningkatnya arus logistik pada akhir 2025 hingga awal 2026. Sejumlah kapal di beberapa pelabuhan dilaporkan harus menunggu hingga 5–6 hari untuk bisa sandar dan melakukan bongkar muat.
Buruknya layanan bongkar muat diduga akibat peralatan yang sudah tua dan sering mengalami gangguan sehingga produktivitas terminal menurun drastis.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur Sebastian Wibisono mengatakan kondisi tersebut terjadi di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, khususnya di Terminal Peti Kemas (TPK) Nilam dan TPK Mirah.
“Kalau biasanya maksimal tiga hari, sekarang bisa sampai enam hari. Ini karena beberapa alat bongkar muat atau crane sudah tua,” kata Sebastian, Kamis (29/1).
Sebastian menyebut idealnya produktivitas bongkar muat berada di kisaran 30–40 kontainer per jam. Namun saat ini hanya mampu menangani sekitar 10 kontainer per jam.
Akibatnya, terjadi kelangkaan kontainer (shortage container) di sejumlah pelabuhan, sehingga jadwal pengiriman barang menjadi molor.
“Saya mengirim bahan baku pupuk ke Sampit. Sejak Desember sulit dapat kontainer kosong. Baru bisa kirim Januari 2026, itu pun hanya sebagian,” ujarnya.
Menurut Sebastian, biasanya pihaknya bisa memperoleh 20–40 kontainer per hari atau setara 1.000 ton barang. Namun kini hanya mendapatkan sekitar 10 kontainer per hari atau sekitar 250 ton.

















































