jatim.jpnn.com, JOMBANG - Persaingan menuju kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang semakin mengerucut menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Sementara pemilihan Ketua Umum PBNU dijadwalkan berlangsung pada Sabtu malam, 29 Agustus 2026.
Sejumlah nama sebelumnya muncul dalam bursa pencalonan, di antaranya KH Yahya Cholil Staquf, KH Imam Jazuli, KH Nasaruddin Umar, KH Abdussalam Shohib, KH Abdul Hakim Mahfudz, KH Yusuf Chudlori, dan KH Abdul Ghaffar Rozin.
Namun, tidak seluruh nama tersebut berada dalam posisi yang sama. Sebagian telah menyatakan kesiapan maju secara terbuka dan melakukan konsolidasi untuk memperoleh dukungan suara struktur NU, sedangkan sebagian lainnya belum menyampaikan pernyataan terbuka terkait pencalonannya.
Selain itu, persyaratan dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) NU, Peraturan Perkumpulan (Perkum) NU, serta tata tertib pemilihan menjadi salah satu faktor yang menentukan siapa saja yang dapat mengikuti kontestasi.
Sejumlah kandidat disebut berpotensi terganjal ketentuan mengenai rangkap jabatan, masa tunggu politik atau iddah politik, hingga status pemberhentian atau pemecatan.
Insantara Kerucutkan Tiga Kandidat
Di tengah dinamika tersebut, Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) merilis tiga nama yang dinilai memiliki kekuatan paling besar untuk melaju hingga tahap pemilihan Ketua Umum PBNU.
Ketiga nama tersebut ialah petahana KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, pengasuh pesantren KH Imam Jazuli atau Kiai Imjaz, serta Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.



















































