jateng.jpnn.com, SEMARANG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Tengah pada 1-3 Januari 2026. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang Yoga Sambodo menjelaskan bahwa berdasarkan pemantauan terkini, wilayah Indonesia, khususnya Jawa Tengah dipengaruhi gangguan dinamika atmosfer yang mendukung peningkatan cuaca ekstrem.
“Analisis dinamika atmosfer menunjukkan beberapa faktor aktif yang secara bersama-sama meningkatkan potensi hujan lebat di Jawa Tengah,” kata Yoga, Kamis (1/1).
Suhu permukaan laut yang relatif hangat di wilayah Laut Jawa berpotensi menambah massa uap air di atmosfer, sehingga mendukung pembentukan dan pertumbuhan awan konvektif.
Selain itu, terpantau bibit siklon 90S di Samudra Hindia barat daya Pulau Jawa yang memicu terbentuknya belokan dan pertemuan angin di wilayah Jawa Tengah.
Faktor lain yang turut berperan adalah aktifnya gelombang ekuatorial Rossby, nilai indeks surge yang mencapai +10,5 yang menandakan adanya seruakan udara dingin dari Asia, serta kondisi kelembapan udara di berbagai lapisan atmosfer yang cenderung basah.
Kondisi tersebut diperkuat oleh labilitas atmosfer lokal yang kuat, sehingga mendukung proses konvektif skala lokal.
“Kombinasi kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan kumulonimbus yang dapat memicu hujan lebat disertai kilat atau petir serta angin kencang,” ujarnya.



















































