jpnn.com, JAKARTA - Desa Kalongliud di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, pernah berada pada titik rapuh ketika bencana alam dan tekanan ekonomi datang hampir bersamaan.
Pada 2020, banjir dan longsor merusak jaringan irigasi desa secara menyeluruh. Sekitar 150 hektare lahan pertanian mengalami kekeringan, sementara puluhan petani dan ratusan buruh tani kehilangan stabilitas mata pencaharian mereka.
Kondisi tersebut diperberat oleh pandemi COVID-19 yang menekan aktivitas ekonomi masyarakat. Desa menghadapi risiko krisis ganda, yakni ancaman terhadap ketahanan pangan dan tekanan ekonomi rumah tangga.
Seiring waktu, sebagian lahan pertanian berangsur menjadi lahan tidur, menciptakan tantangan serius bagi keberlanjutan desa.
Dari situasi tersebut, lahir sebuah inisiatif bernama Garitan Kalongliud. Program yang diinisiasi oleh Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor ANTAM bersama masyarakat desa ini dirancang bukan sekadar sebagai bantuan sosial, melainkan sebagai model pertanian sirkular terpadu.
Pendekatan ini mengedepankan pemanfaatan lahan tidur, efisiensi sumber daya air, pengelolaan limbah, serta penguatan kelembagaan petani berbasis komunitas.
Perubahan mulai terlihat secara nyata di lapangan. Sebanyak 35 hektar lahan tidur berhasil dipulihkan menjadi lahan produktif. Limbah lokal, termasuk kotoran ternak domba, diolah menjadi pupuk organik. Sekitar 25 ton limbah kotoran domba dimanfaatkan dalam sistem budidaya, sehingga mampu menekan penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen.
Dari sisi pengelolaan sumber daya air, penerapan sistem irigasi tetes membawa dampak signifikan. Teknologi ini meningkatkan efisiensi konsumsi air hingga 60 persen sebuah capaian krusial bagi wilayah yang sebelumnya mengalami tekanan sumber daya air.




















































