jatim.jpnn.com, SURABAYA - Seorang perempuan asal Mobagu, Sulawesi Utara Praditya Afrilia memilih berkarier di kampung halamannya seusai dilantik dan diambil sumpah sebagai dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa), Rabu (11/12).
Situasi tersebut tentu berbeda. Sebagian besar banyak dokter muda memilih membangun karier di kota besar, ia justru kembali ke daerah asalnya.
Pia mengungkapkan latar belakang keluarga yang membentuk jalan hidupnya, hingga sukses meraih gelar dokter. Putri sulung tersebut juga menyebut sebagai dokter pertama di keluarganya. Sebuah pencapaian yang sangat berarti karena lahir dari dukungan penuh orang tua.
“Kedua orang tua saya berprofesi sebagai guru. Mereka tidak membatasi pilihan saya. Sebaliknya, dukungan justru mengalir penuh ketika memutuskan memilih jadi dokter,” ujar Pia, Jumat (13/2).
Perempuan kelahiran 3 April 2001 itu terinspirasi dari usaha orang tuanya, dalam mencerdaskan generasi di daerahnya. Ditambah lagi, tumbuh di keluarga pendidik membuat Pia akrab dengan nilai pengabdian sejak kecil.
“Nilai itu pula yang kemudian saya bawa ketika memilih menjadi dokter. Sejak awal kuliah kedokteran, bayangan tentang kampung halaman selalu menjadi pengingat mengapa saya harus bertahan,” ucapnya.
Menurutnya, banyak warga yang bercerita rela menunda berobat lantaran jarak layanan kesehatan terlalu jauh, maupun fasilitas yang terbatas.
“Ada pula harus dirujuk ke daerah lain untuk penanganan lanjutan, yang berarti biaya dan waktu bertambah, sementara kondisi pasien tidak selalu memungkinkan untuk menunggu,” ungkapnya.

















































