jpnn.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilisi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen secara tahunan.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mengatakan angka itu menjadi kabar menggembirakan di tengah dunia yang sedang menghadapi perlambatan ekonomi, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian pasar keuangan global.
Pemerintah pun menyebut capaian ini sebagai bukti ketahanan ekonomi nasional yang tetap mampu tumbuh di tengah tekanan global yang berat.
“Namun pertanyaan pentingnya, apakah pertumbuhan ini benar benar mencerminkan kesehatan ekonomi nasional yang kuat, atau justru hanya menutupi tekanan besar yang sedang bergerak diam diam di bawah permukaan?” ujar Achmad dikonfirmasi JPNN, Kamis (7/5).
Menurut Achmad, ekonomi tidak cukup dibaca dari satu angka pertumbuhan. Dia menekankan ekonomi harus dibaca seperti kondisi tubuh manusia.
“Seseorang bisa tampak sehat dari luar, tetapi hasil pemeriksaan darah justru menunjukkan tekanan serius di organ dalamnya,” ujar Achmad.
Dia menyebut Indonesia hari ini menghadapi situasi yang serupa. Pertumbuhan ekonomi tampak tinggi, tetapi sejumlah indikator fundamental menunjukkan tanda kewaspadaan yang tidak boleh diabaikan.
Data BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 terutama ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh sekitar 5,1 persen dan lonjakan belanja pemerintah lebih dari 21 persen.






















































