jpnn.com, JAKARTA - Konflik internal di tubuh Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) dinilai telah membawa organisasi perempuan tertua di Indonesia itu ke arah persimpangan jalan.
Di tengah mandeknya berbagai upaya mediasi, mantan Ketua Umum KOWANI Dr. Giwo Rubianto Wiyogo bersama Ketua Umum Wanita Pelopor Penerus Kemerdekaan Bangsa Indonesia (WPPKBI) Yenny Wahid mendorong agar penyelesaian konflik dikembalikan ke mekanisme organisasi melalui kongres.
"KLB sebagai satu-satunya mekanisme konstitusional untuk mengakhiri polemik internal yang semakin tajam. Itu mungkin salah satu cara penyelesaian masalah, jadi melalui mekanisme organisasi," kata Giwo Rubianto, di sela-sela Halalbihalal KOWANI di Jakarta, Kamis (16/4).
Giwo, yang pernah memimpin KOWANI periode 2014–2019 dan 2019–2024, menegaskan bahwa organisasi itu harus kembali pada semangat para founding mother.
Menurutnya, KOWANI semestinya menjadi wadah yang menghadirkan keteladanan, ketenangan, dan persatuan, bukan sebaliknya diwarnai pemecatan, kegaduhan, dan suasana yang tidak kondusif.
Ia juga menekankan bahwa amanah hasil kongres harus tetap dijalankan, termasuk fungsi organisasi dan aktivitas perkantoran di Gedung KOWANI, Jalan Imam Bonjol, Jakarta.
Salah satu tokoh wanita Indonesia ini juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi fasilitas KOWANI yang disebut telah berubah fungsi.
Ia menyinggung bangunan dan sarana yang selama bertahun-tahun dibangun untuk kegiatan perempuan, tetapi kini dinilai tidak lagi mencerminkan semangat perjuangan organisasi.



















































