jpnn.com - SATU anak, satu cucu. Itulah sahabat saya di Huai An, Jiangshu, Tiongkok. Anak tunggalnya kini kerja di Beijing. Sudah punya anak satu. Masih balita. Sudah mulai belajar berjalan.
Kedatangan saya ke Huai An pekan lalu diketahui sang anak. Ia pun membawa istri dan anaknya ke Huai An. Sekalian agar ayah-ibunya bisa melihat cucu tunggal itu.
Helm lunak digunakan seorang balita. -HARIAN DISWAY-
Betapa senang sang nenek. Betapa sayang pada si cucu. Sampai dia belikan helm lunak –untuk melindungi kepala cucu.
"Saya takut ia jatuh. Lalu kepalanya membentur lantai," ujar sang nenek.
Lihatlah foto anak balita itu. Ada helm di kepalanya. Maka si nenek merasa cucu itu aman. Begitu sayangnya pada cucu satu-satunya.
Helm untuk anak balita, awalnya sebagai alat medis. Ketika tulang tempurung si anak masih lunak. Helm itu bisa membantu menormalkan bentuk tulang tengkorak.
Lama-lama helm seperti itu berkembang menjadi alat pengamanan balita. Terutama ketika balita sedang belajar duduk dan berdiri. Badannya belum punya keseimbangan. Balita sering terjengkang ke belakang. Kepalanya membentur lantai. Padahal zaman sekarang lantai rumah terbuat dari keramik yang keras.

.jpeg)


















































