jatim.jpnn.com, SURABAYA - Penandatanganan surat permohonan maaf oleh Wakil Wali Kota Surabaya Armuji memicu polemik publik. Sejumlah tokoh masyarakat menilai peristiwa itu bukan sekadar kesalahan etika pejabat, melainkan menyeret harga diri dan martabat Kota Surabaya ke dalam pusaran kontroversi.
Ketua LSM MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur Heru Satriyo menyebut tindakan Armuji sebagai preseden buruk yang mencoreng kehormatan Surabaya sebagai Kota Pahlawan.
“Ini bukan perkara sepele. Ini soal harga diri Surabaya dan kebanggaan arek Suroboyo. Kejadian ini memalukan dan mencoreng nama besar Kota Pahlawan,” kata Heru, Kamis (8/1).
Kritik lebih keras disampaikan tokoh masyarakat Surabaya Drg David. Dia menilai langkah Armuji menandatangani surat permohonan maaf tersebut menunjukkan ketidakcermatan dan ketidakpekaan sebagai pejabat publik.
“Sebagai Wakil Wali Kota, tindakan itu mencederai perasaan arek Suroboyo. Ini menorehkan luka mendalam dan bertentangan dengan karakter warga Surabaya yang dikenal berani dan tegas,” ujarnya.
Heru menilai polemik tersebut berpotensi memicu kegaduhan sosial yang lebih luas di Surabaya. Menurutnya, rasa ketersinggungan publik terhadap kepemimpinan kota kian menguat pascakejadian tersebut.
“Ini membuka babak baru kegaduhan sosial. Jangan sampai kepemimpinan kota justru memperlemah wibawa Surabaya di mata publik,” sambung Heru.
Sebagai respons atas situasi itu, sejumlah tokoh masyarakat bersepakat menginisiasi Apel Siaga Arek Suroboyo WANI. Kegiatan tersebut diklaim sebagai bentuk penolakan terhadap premanisme sekaligus kritik atas narasi pengkotakan berbasis suku yang kembali mencuat di ruang publik.



















































