Insentif EV Berakhir, Harga Mobil Listrik Diprediksi Melambung Tinggi

2 hours ago 22

Insentif EV Berakhir, Harga Mobil Listrik Diprediksi Melambung Tinggi

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Direktur Eksekutif Center for Energy Policy M Kholid Syeirazi menilai tidak adanya instentif pada EV bisa memicu kenaikan harga kendaraan listrik di pasaran. Ilustrasi : Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif Center for Energy Policy M Kholid Syeirazi menanggapi terkait wacana pemerintah yang tidak lagi memberikan instentif mobil listrik (electric vehicle/EV) pada 2026.

Dia menilai tidak adanya instentif EV bisa memicu kenaikan harga kendaraan listrik di pasaran.

Kholid meramal kondisi tersebut bisa berpotensi menurunkan minat konsumen yang sejak awal sangat sensitif terhadap harga, apalagi insentif fiskal berperan sebagai pemanis yang mendorong masyarakat beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil (internal combustion engine/ICE) ke EV.

Kholid mengungkapkan beberapa stimulus utama resmi berakhir tahun ini, mulai dari pembebasan bea masuk mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) impor utuh (completely built up/CBU) hingga skema pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) sebesar 10 persen.

"PPN itu salah satu demand booster penjualan. Insentif tersebut menjadi pemanis agar konsumen mau pindah dari ICE ke EV. Tanpa itu, kenaikan harga per unit bisa mencapai sekitar 15 persen. Hal tersebut berisiko menekan penjualan kendaraan listrik ditingkat ritel," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, melemahnya minat masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik dapat berdampak langsung pada meningkatnya beban subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Kondisi tersebut, tambahnya, semakin berisiko mengingat sistem penyaluran subsidi BBM di Indonesia masih bersifat terbuka.

"Seharusnya, subsidi itu diberikan secara tertutup. Ada atau tidaknya EV, subsidi BBM kita memang belum tepat sasaran. Sistem terbuka pada penyaluran BBM sangat rawan moral hazard dan penyimpangan," kata anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) itu.

Direktur Eksekutif Center for Energy Policy M Kholid Syeirazi menilai tidak adanya instentif pada EV bisa memicu kenaikan harga kendaraan listrik di pasaran.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |