jpnn.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada Rabu pagi bergerak menguat 158 poin menjadi Rp 17.900 per USD. Angka itu naik 0,88 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 18.058 per USD.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menganggap penguatan rupiah dipengaruhi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi yang berdampak baik terhadap fiskal pemerintah.
“Transmisi kebijakan kenaikan harga BBM non subsidi dinilai baik (oleh pelaku pasar, red) terhadap fiskal pemerintah dan risiko sosial politik yang masih terkendali,” ucap Rully, Rabu.
Seperti diketahui, Pertamina Patra Niaga mengumumkan kenaikan harga produk bahan bakar minyak jenis Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026.
Tercatat, harga bahan bakar non-subsidi Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Menurut perusahaan, penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green diputuskan berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator, dan dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.
Adapun harga produk bahan bakar non-subsidi Pertamax Turbo (RON 98) tetap Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) tetap Rp 23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) tetap Rp 24.800 per liter.
Bahan bakar minyak bersubsidi jenis Pertalite juga tetap dipasarkan dengan harga Rp 10 ribu per liter dan Biosolar harganya masih Rp 6.800 per liter.






















































