M. Nur Kholis Setiawan jelaskan Bahaya Sikap Pesimis Setelah Berbuat Dosa dalam Perspektif Al-Hikam

1 day ago 16
M. Nur Kholis Setiawan membedah Hikmah ke-52 yang menyoroti bagaimana sikap pesimis dapat merusak spiritualitas seorang hamba. (Youtube/ Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan Channel)

KabarJakarta.com – Kerap kali, manusia terjebak dalam rasa bersalah yang mendalam setelah melakukan kesalahan atau perbuatan dosa. Namun, tahukah Anda bahwa merasa putus asa atas ampunan Tuhan justru merupakan masalah yang lebih besar daripada dosa itu sendiri? Dalam sebuah ulasan mendalam mengenai Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah, M. Nur Kholis Setiawan membedah Hikmah ke-52 yang menyoroti bagaimana sikap pesimis dapat merusak spiritualitas seorang hamba.

Sikap pesimis setelah berbuat dosa bukan sekadar urusan perasaan, melainkan refleksi dari sejauh mana seorang hamba mengenal Tuhannya. M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa ketika seseorang merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni, ia sebenarnya sedang terjebak dalam ketidaktahuan akan sifat-sifat Allah yang Maha Pengampun.

Dosa Menjadi Besar Karena Keputusasaan

Dampak negatif pertama dan yang paling nyata dari sikap pesimis adalah perubahan status dosa itu sendiri. Secara esensial, dosa bisa menjadi “besar” bukan hanya karena jenis perbuatannya, melainkan karena persepsi pelakunya yang menutup diri dari rahmat Allah.

Dalam penjelasannya, M. Nur Kholis Setiawan menekankan, “Perbuatan dosa itu akan bisa menjadi besar ketika membuat kita putus asa dari Maghfirah Allah.” Ketika seseorang merasa tidak lagi pantas mendapatkan ampunan, ia secara tidak sadar sedang meragukan keluasan kasih sayang Allah. Hal ini justru menyumbat optimisme yang seharusnya menjadi motor penggerak untuk kembali ke jalan yang benar.

Ketidakmampuan untuk berprasangka baik (husnudzon) kepada Tuhan adalah bentuk kegagalan dalam memahami hakikat ketuhanan. Jika seorang hamba merasa dosanya menutupi segala kemungkinan untuk diperbaiki, maka ia telah membiarkan kegelapan menguasai hatinya.

Jarak Antara Hamba dan Pencipta Akibat Pesimisme

Lebih lanjut, dampak psikologis dan spiritual dari sikap pesimis adalah munculnya jarak yang semakin lebar antara hamba dengan Allah. Rasa pesimis sering kali membuat seseorang merasa tidak lagi berarti di hadapan Sang Pencipta, sehingga ia enggan untuk kembali bersujud atau memohon ampun.

M. Nur Kholis Setiawan menyoroti fenomena ini sebagai salah satu jebakan yang paling berbahaya. Dalam salah satu bagian penjelasannya, ditekankan bahwa, “Pesimisme itulah yang membuat kita malah justru makin makin tambah jauh dari Allah atau makin makin besar dosa yang kita lakukan.” Rasa rendah diri yang berlebihan ini berubah menjadi penghalang (hijab) yang menghalangi seorang hamba untuk melakukan Muhasabah atau introspeksi diri secara sehat.

Alih-alih mendekat, sikap pesimis justru mendorong manusia untuk semakin tenggelam dalam kesalahan karena merasa “sudah terlanjur basah.” Hal ini tentu sangat merugikan bagi perkembangan mental dan spiritual seseorang.

Mengenal Allah Melalui Sifat Maha Pengampun

Kunci untuk menghindari dampak negatif ini adalah dengan meningkatkan pengenalan atau Ma’rifat kepada Allah. Seseorang yang benar-benar mengenal Allah tidak akan pernah membiarkan rasa putus asa menguasai hatinya. Sebesar apa pun kesalahan yang dilakukan, ia tetap meyakini bahwa pintu tobat selalu terbuka lebar.

Optimisme ini bukan berarti meremehkan dosa, melainkan menempatkan kekuasaan Allah di atas segala keterbatasan manusia. M. Nur Kholis Setiawan mengajukan sebuah pertanyaan reflektif yang sangat mendalam: “Dosa mana yang kemudian tidak akan mendapatkan ampunan atau tidak mendapatkan ruangan ampunan dari Allah?”

Pertanyaan ini mengajak setiap individu untuk menyadari bahwa tidak ada ruang di alam semesta ini yang tidak terjangkau oleh kemurahan-Nya. Dengan memegang prinsip ini, perbuatan dosa yang disesali justru bisa menjadi wasilah atau perantara untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui tobat yang sungguh-sungguh.

Mengubah Dosa Menjadi Jalan Menuju Iman

Sebagai penutup, M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan bahwa jika sebuah dosa membuat pelakunya merasa menyesal, berhenti melakukan kesalahan tersebut, dan bertekad tidak mengulanginya, maka itu adalah tanda-tanda keimanan. Dosa yang disikapi dengan optimisme akan ampunan Allah disebut sebagai uzmatun mahmudatun atau “keagalan yang terpuji” karena berhasil mengantarkan hamba pada kepasrahan total.

Oleh karena itu, menjaga sikap proporsional dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting. Kita harus tetap waspada agar tidak terjebak dalam kemudahan berbuat dosa, namun di saat yang sama, kita tidak boleh kehilangan harapan sedikit pun akan kasih sayang Allah yang tiada bertepi. Dengan optimisme, setiap kesalahan menjadi pelajaran berharga untuk membentuk pribadi yang lebih baik dan lebih dekat dengan Sang Khalik.

Read Entire Article
| | | |