jpnn.com, JAKARTA - Lima tahun perjalanan, empat musim kompetisi, dan 12 tim terbaik dipertemukan dalam satu panggung Jakarta Butchers’ Challenge (JBC) All-Stars 2026 di Park Hyatt Jakarta, Rabu (2/9).
Mengusung tema Meatcopedia 2026, “Beyond the Cut: From Source to Standard,” edisi All-Stars memperluas tantangan dari proses butchery hingga penerapannya dalam dunia kuliner.
Para peserta tidak hanya diuji dalam ketepatan memotong daging, tetapi juga ditantang mengembangkannya menjadi produk yang efisien, inovatif, dan relevan bagi industri. Setelah melewati dua sesi kompetisi, Evan Jatmiko Wibisono dan Ismail Ali dari The Langham Jakarta keluar sebagai juara pertama JBC All-Stars 2026.
“Perbedaan kompetisi kali ini terletak pada formatnya yang benar-benar difokuskan untuk peserta profesional. Sesi butchery dan cooking juga kami pisahkan agar kemampuan peserta dapat dinilai lebih mendalam. Karena ini Jakarta Butchers’ Challenge, kemampuan butchery menjadi penilaian utama dengan bobot 60 persen, sementara cooking memiliki bobot 40 persen,” ujar Direktur Butchery Training Centre Charlos Lalack.
Dalam kompetisi itu, peserta ditantang memahami dan mengolah tiga karakter daging sapi Australia yang berbeda: Australian Wagyu dari Sher Wagyu, premium grass-fed Angus beef dari Bass Strait Beef, serta natural Australian beef dari Greenham Natural Beef.
Karakter masing-masing produk menuntut peserta menentukan pendekatan pemotongan, pemanfaatan, dan teknik memasak yang tepat. Melalui rangkaian Butchery Challenge dan Cooking Challenge, kemampuan peserta dinilai tidak hanya dari teknik dan presisi, tetapi juga dari konsistensi, optimalisasi bahan, kreativitas produk, serta penerapannya untuk kebutuhan retail, foodservice, dan kuliner.
Selain menjadi juara umum, Evan Jatmiko Wibisono dan Ismail Ali juga meraih penghargaan Best Butchery. Posisi kedua ditempati Sandy Tri Pamungkas dan Ade Muhammad Samsu dari Sudestada, sedangkan Nur Abadi dan Deni Risnawan dari Foodhall berada di posisi ketiga.
Penghargaan Best Dish diberikan kepada Adrian Winoto dan Farrell Aurelio Tjokrowinoto dari Confit Surabaya atas wet-heat main course berupa braised beef dish yang menunjukkan penguasaan teknik memasak serta pemanfaatan karakter daging dari proses butchery hingga menjadi hidangan.

















































