jateng.jpnn.com, SEMARANG - Sekitar 120 mahasiswa asal Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara yang menempuh pendidikan di berbagai kampus di Kota Semarang kini terjebak dalam situasi pelik.
Kiriman uang bulanan dari keluarga terputus total akibat banjir dan longsor besar yang melumpuhkan kampung halaman mereka. Situasi ini membuat sebagian mahasiswa nyaris tak bisa bertahan hidup di tanah rantau.
Sejak banjir menghantam wilayah Sumatera dalam dua pekan terakhir, akses darat putus, jaringan komunikasi tumbang, dan ribuan rumah terendam. Dampaknya menjalar hingga Kota Semarang.
“Banyak teman-teman sudah tidak bisa bayar indekos. UKT (uang kuliah tunggal) juga tertunda karena tidak bisa mengabari orang tua,” kata Yuda Sandi Prananta (21), mahasiswa semester 7 UPGRIS dan koordinator mahasiswa Aceh–Sumut di Semarang, Rabu (10/12).
Yuda sendiri empat hari tak bisa berkomunikasi dengan keluarganya di Gayo Lues, Aceh. Jaringan telekomunikasi putus, jalur darat ambruk, dan satu-satunya akses keluar-masuk daerah hanya lewat udara.
“Perasaan saya hancur. Informasi apa pun tidak ada. Saya hanya bisa menunggu,” ucapnya.
Dia mengaku terpaksa meminjam uang untuk makan harian. "Iya untuk harian, saya pinjam teman," ujarnya.
Dari catatan mahasiswa perantau, lanjut dia, beberapa mahasiswa menerima kabar keluarga mereka hanyut terbawa arus. Sebagian lainnya hingga kini belum bisa melakukan kontak.





.jpeg)













































