jpnn.com - Harapan Barcelona untuk membalikkan keadaan saat menghadapi Atlético Madrid pada leg kedua perempat final Liga Champions tidak hanya bergantung pada performa di lapangan.
Ada satu fakta yang membuat misi tersebut terasa makin berat.
Blaugrana datang ke Riyadh Air Metropolitano dengan beban defisit dua gol setelah tumbang pada pertemuan pertama.
Artinya, pasukan Hansi Flick wajib mencetak kemenangan dengan selisih lebih dari dua gol untuk menjaga asa di Liga Champions.
Secara sejarah, Barcelona memang bukan tim asing dengan kisah comeback dramatis.
Salah satu yang paling dikenang ialah saat tim asal Catalan itu membalikkan keadaan melawan Paris Saint-Germain.
Saat itu, setelah kalah 0-4 pada leg pertama, Barca menghajar PSG 6-1 di Camp Nou pada babak 16 besar Liga Champions edisi 2016 silam.
Namun, melansir data dari Bein Sports, ada catatan yang justru menjadi bayang-bayang. Hampir seluruh kebangkitan spektakuler Barcelona terjadi saat bermain di kandang sendiri.




















































