Membaca Pidato Presiden Prabowo di Davos sebagai Kontra-Skema Global

2 hours ago 21

Komisaris PT Pelindo Arief Poyuono. Foto: supplied

jpnn.com - Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Tatanan global yang selama tiga dekade terakhir dipandu oleh globalisasi, perdagangan bebas, dan stabilitas geopolitik relatif, kini berada dalam fase guncangan struktural.

Perang Rusia–Ukraina belum usai, konflik Gaza mengguncang stabilitas Timur Tengah, ketegangan Laut China Selatan terus membayangi Asia, sementara rivalitas Amerika Serikat dan China semakin menyerupai perang dingin baru dalam bentuk ekonomi, teknologi, dan keuangan.

Membaca Pidato Presiden Prabowo di Davos sebagai Kontra-Skema GlobalPresiden Prabowo saat berpidato di WEF, Davos, Swiss, pada Kamis (22/1) malam. Foto: dokumentasi Biro Pers Istana

Di bidang ekonomi, dunia menghadapi paradoks berlapis, yang ditandai oleh inflasi tinggi di negara maju, perlambatan pertumbuhan global, krisis utang di banyak negara berkembang, dan fragmentasi rantai pasok internasional.

Sistem keuangan global pun semakin rapuh, ditandai oleh volatilitas arus modal, penguatan dolar AS yang menekan mata uang negara berkembang, serta meningkatnya praktik financial weaponization melalui sanksi dan pembatasan akses sistem pembayaran internasional.

Dalam konteks keamanan, ancaman tidak lagi semata bersifat militer konvensional. Krisis pangan, energi, perubahan iklim, dan disrupsi teknologi telah menjadi faktor destabilitas baru yang berdampak langsung pada kehidupan sosial dan legitimasi negara. Dunia memasuki fase polycrisis, yaitu bentuk krisis yang saling bertumpuk dan memperkuat satu sama lain.

Di tengah situasi inilah pidato Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEF) Davos 2026 menjadi relevan untuk dibaca bukan sebagai retorika diplomatik, melainkan sebagai kontra-skema strategis terhadap arah global yang semakin tidak pasti.

Kegagalan Model Global Lama

Selama beberapa dekade terakhir, banyak negara -termasuk negara berkembang- mengadopsi resep globalisasi neoliberal: liberalisasi pasar, deregulasi, privatisasi, dan pembatasan peran negara. Model ini memang mendorong pertumbuhan, tetapi juga menciptakan ketimpangan, kerentanan eksternal, dan erosi kapasitas negara.

Pidato Presiden Prabowo di Davos 2026 menunjukkan bahwa Indonesia tidak sekadar bereaksi terhadap krisis global, tetapi menawarkan sebuah kerangka alternatif.

Read Entire Article
| | | |