jpnn.com - Selat Malaka sejak lama bukan sekadar jalur laut yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Sejak abad ke-19, selat sempit ini telah membentuk apa yang dikenal sebagai segitiga emas perdagangan: Medan–Penang–Singapura. Di kawasan inilah arus komoditas, modal, dan kekuasaan bertemu.
Jika dahulu rempah-rempah dan hasil bumi mendominasi, kini energi, manufaktur, dan rantai pasok global menjadi komoditas utama.
Perubahan jenis komoditas tidak mengubah satu fakta mendasar: siapa yang menguasai simpul perdagangan di Selat Malaka memiliki pengaruh besar terhadap dinamika ekonomi dan politik kawasan, bahkan dunia.
Memasuki abad ke-21, segitiga emas Selat Malaka tidak lagi berada di pinggiran sejarah global. Ia justru menjadi pusat perebutan kekuatan di tengah dunia yang semakin multipolar, ketika perdagangan, energi, dan keamanan saling terjalin erat.
Segitiga Emas: Warisan Kolonial yang Bertahan
Sejarah Selat Malaka memperlihatkan adanya kontinuitas kekuasaan. Pada masa kolonial, Inggris membangun Penang dan Singapura sebagai pelabuhan entrepôt yang melayani perdagangan global, sementara wilayah Sumatra—termasuk Medan—berfungsi sebagai basis produksi komoditas.
Pola ini melahirkan arsitektur perdagangan yang bertahan lintas zaman: wilayah hinterland penghasil bahan mentah terhubung dengan pelabuhan utama yang berperan sebagai pusat distribusi internasional.
Singapura tumbuh paling pesat karena mampu menawarkan stabilitas politik, kepastian hukum, dan efisiensi logistik. Keunggulan ini menjadikannya simpul utama perdagangan di Selat Malaka, bahkan setelah era kolonial berakhir.
Karena itu, segitiga emas Medan–Penang–Singapura bukan sekadar konstruksi geografis, melainkan struktur ekonomi-politik yang membentuk arah perdagangan Asia Tenggara.






















































