jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menerapkan strategi menangani persoalan sampah melalui pendekatan desentralisasi. Tahun ini, Pemkot menargetkan pembangunan 400 titik biopori jumbo guna menekan volume sampah organik langsung dari sumbernya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Rajwan Taufiq mengatakan bahwa progres pembangunan saat ini berjalan cukup impresif. Per 30 Juni 2026, sebanyak 286 titik telah berhasil direalisasikan.
"Masih ada kekurangan 114 titik lagi dan kami menargetkan seluruh kekurangan tersebut dapat direalisasikan pada triwulan berikutnya," ujar Rajwan saat ditemui di Yogyakarta, Selasa (7/7).
Pembangunan 400 titik biopori jumbo pada tahun ini merupakan kelanjutan dari upaya masif yang telah dilakukan sebelumnya.
Dengan tercapainya target tahun ini, Pemkot Yogyakarta akan memiliki total 1.000 titik biopori jumbo yang tersebar di seluruh penjuru kota.
"Pada 2025 kami sudah membangun 600 titik biopori jumbo, kemudian pada tahun ini ditambah lagi sebanyak 400 titik. Jadi, pada akhir tahun nanti totalnya akan ada 1.000 titik biopori jumbo di Kota Yogyakarta," jelas Rajwan.
Menurut Rajwan, biopori jumbo bukan sekadar simbol penanganan sampah, melainkan instrumen nyata untuk mengubah pola pengelolaan sampah menjadi lebih terdesentralisasi.
Dengan mengolah sampah organik di tingkat rumah tangga atau lingkungan lokal, volume sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan secara signifikan.


















































