jatim.jpnn.com, BONDOWOSO - Ratusan petani tembakau di Bondowoso memulai musim tanam 2026 dengan penuh optimisme. Mereka menanam varietas unggulan lokal Kasturi dan Maesan dalam kegiatan Tanam Raya yang digelar di Desa Mengok, Kecamatan Pujer, Bondowoso.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid beserta jajaran pemerintah daerah. Di tengah semangat memulai musim tanam, para petani menyuarakan kekhawatiran terhadap sejumlah rancangan regulasi yang dinilai mengancam keberlangsungan sektor tembakau lokal.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Bondowoso M Yasid mengatakan petani resah dengan wacana pembatasan kadar nikotin dan tar yang dinilai dapat memengaruhi penyerapan hasil panen oleh industri.
“Kami sangat khawatir karena di tengah semangat menanam, ada rancangan pembatasan kadar nikotin dan tar yang mengancam keberadaan bibit unggul tembakau Bondowoso, Maesan I dan Maesan II dengan kadar rata-rata 4-6 persen,” ujar Yasid, Sabtu (23/5).
Menurutnya, wacana pembatasan kadar nikotin dan tar, ditambah aturan lain seperti kemasan rokok polos hingga larangan bahan tambahan, berpotensi memukul ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor tembakau.
“Bagi kami ini sama saja dengan upaya menghilangkan sawah ladang penghidupan masyarakat Bondowoso,” tuturnya.
Yasid menyebut sekitar 5.000 petani menggantungkan hidup pada sektor pertembakauan. Sementara luas lahan tanam tembakau di Bondowoso mencapai 8.424 hektare.
Dia menilai apabila regulasi tersebut diterapkan tanpa solusi yang jelas, hasil panen petani dikhawatirkan tidak lagi terserap pabrik.



















































