jateng.jpnn.com, SEMARANG - Produksi sampah di Jawa Tengah sepanjang 2025 mencapai sekitar 6 juta ton. Dari jumlah itu, sampah yang berhasil dikelola baru sekitar 41 persen atau setara 2,46 juta ton.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah Widi Hartanto menjelaskan rendahnya angka pengelolaan sampah itu disebabkan masih banyaknya sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan sistem open dumping yang tidak masuk kategori pengelolaan.
“Untuk timbunannya kurang lebih sekitar 6 juta ton. Ya kalau 2025 kemarin ya sekitar 41 persen,” kata Widi saat ditemui di Kantor DPRD Jawa Tengah, Kota Semarang, Selasa (6/1).
Dengan kondisi tersebut, sekitar 59 persen atau 3,54 juta ton sampah di Jawa Tengah sepanjang 2025 belum terkelola dengan baik karena hanya ditimbun di TPA open dumping. Metode ini dinilai berisiko menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan.
“Kalau sampah di tempat open dumping ini kan tidak tertutup, sehingga bisa berdampak pada kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, pada 2026, dia menargetkan pengelolaan sampah di Jawa Tengah dapat mencapai 51 persen. Target itu juga harus didukung dengan transformasi TPA menjadi Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).
Kini, pihaknya gencar melakukan imbauan penanganan sampah tersebut kepada seluruh dinas lingkungan hidup kabupaten/kota di Jawa Tengah.
“Jadi yang tadinya open dumping diarahkan menjadi sanitary landfill atau controlled landfill,” kata Widi.



















































