jatim.jpnn.com, SURABAYA - Dekan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Diana Rahmasari menilai bahwa ibadah puasa di bulan Ramadan tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesehatan mental.
Menahan lapar dan dahaga selama berpuasa dinilai menjadi latihan penting untuk memperkuat kontrol diri, regulasi emosi, serta ketahanan mental seseorang.
Menurutnya, puasa dapat dipahami sebagai latihan self-regulation atau kemampuan mengendalikan diri secara sadar.
Melalui ibadah ini, seseorang belajar menunda keinginan, mengontrol impuls, serta menyesuaikan perilaku dengan nilai dan tujuan hidup yang diyakini.
“Puasa sebenarnya adalah latihan psikologis yang sangat kuat. Ketika seseorang mampu menahan lapar, haus, sekaligus emosi, maka ia sedang melatih kemampuan kontrol diri yang berhubungan dengan fungsi eksekutif otak,” ujar Diana.
Dia menjelaskan kemampuan mengendalikan diri tersebut berkaitan erat dengan emotional regulation atau kemampuan mengelola emosi agar tetap stabil meski berada dalam situasi yang menekan.
Dalam praktiknya, puasa melatih seseorang untuk tidak bereaksi secara berlebihan terhadap rasa tidak nyaman.
“Ramadan memberi ruang bagi individu untuk belajar mengelola emosi secara lebih sehat. Saat lapar atau lelah, seseorang dilatih untuk tetap sabar, berpikir jernih, dan tidak mudah terpancing emosi,” katanya.

















































