jpnn.com - JAKARTA - Para pengembang properti dituntut mampu menyesuaikan produknya dengan gaya hidup (lifstyle) dan minat kalangan generasi Y (Gen Y) maupun generasi Z (Gen Z). Sebab, gaya hidup maupun kecenderungan generasi yang lahir setelah 1981 itu berbeda dari para pendahulunya.
“Tantangannya (bagi developer, red) mengakomodasi kecenderungan saat ini. Gen Y dan Gen Z punya preferensi yang beda dari generasi sebelumnya,” ujar pengamat properti Anton Sitorus saat menjadi narasumber pada Seminar Property Outlook bertema 'Membaca Arah Perkembangan dan Peluang Pasar Properti di Tahun 2026' di Main Atrium PIK Avenue, Jakarta Utara, Jumat (24/4/2026).
Anton menambahkan Gen Y atau generasi milenial yang dilahirkan pada era 1981-1996) dan Gen Z (kelahiran periode 1997-2012) punya kecenderungan tidak mau memiliki rumah atau tempat tinggal yang jauh dari pusat aktivitas dan keramaian. Masalahnya, hunian layak di dalam kota sudah mahal.
“Tren market memang di Gen Y dan Gen Z,” ujarnya di seminar dalam rangka perayaan 55 tahun kiprah Agung Sedayu Group (ASG) itu.
Menurut Anton, properti bukan sekadar fisik, melainkan lebih dari itu karena menyangkut wellness yang mencakup fisik, mental, emosional, bahkan spiritual. Dia menyebut developer besar pasti menangkap kecenderungan itu.
Lebih lanjut Anton mengatakan pengembang Pantai Indah Kapuk (PIK) 1 maupun PIK2 sebenarnya sudah mencoba menjawab tantangan itu dengan membangun hunian yang compact alias dirancang terpadu, padat fungsi, dan efisien.
“Jadi, huniannya tidak gede, tetapi fungsional banget. Rumah rasa apartemen,” katanya.
Namun, tantangan lainnya ialah bagaimana membuat harga hunian compact di dekat pusat keramaian itu tetap terjangkau. Untuk di kota-kota besar, termasuk Jakarta dan sekitarnya, harga rumah tapak yang sesuai keinginan Gen Y maupun Gen Z tentu sudah sangat tinggi.




















































