jpnn.com, JAKARTA - SETARA Institute secara resmi merilis laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 yang memetakan kinerja 94 kota di Indonesia dalam mengelola keberagaman, toleransi, dan inklusi sosial. Laporan ini merupakan publikasi kesembilan sejak pertama kali dilakukan pada 2015.
"Ini mengombinasikan paradigma hak konstitusional warga, standar HAM internasional, serta tata kelola pemerintahan yang inklusif," kata Ketua Badan Pengurus SETARA Institute, Ismail Hasan, Rabu (22/4).
Hasil studi tahun ini menempatkan Kota Salatiga di peringkat pertama sebagai kota dengan skor toleransi tertinggi dengan perolehan skor 6,492.
Posisi Salatiga diikuti oleh Kota Singkawang di peringkat kedua dengan skor 6,391, dan Kota Semarang di peringkat ketiga dengan skor 6,160.
Melengkapi daftar sepuluh besar kota paling toleran adalah Pematang Siantar, Bekasi, Sukabumi, Magelang, Kediri, Tegal, dan Ambon.
Dinamika menarik terjadi dengan masuknya Tegal dan Ambon ke dalam sepuluh besar. Kota Tegal menunjukkan lompatan progresif yang signifikan, di mana pada IKT 2024 kota ini masih berada di peringkat 39.
Kenaikan tersebut ditopang oleh penguatan pondasi regulatif melalui Peraturan Daerah Nomor Tahun 2024 tentang Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama.
Sementara itu, kembalinya Kota Ambon ke jajaran sepuluh besar mengindikasikan keberhasilan proses konsolidasi yang dilakukan pemerintah daerah dalam beberapa tahun terakhir.





















































