Satu Jam Gelap, Emisi Karbon Jakarta Turun 74,23 Ton

9 hours ago 38
Pemprov DKI Jakarta mengajak masyarakat melakukan aksi pemadaman lampu serentak selama 60 menit atau mulai pukul 20.30-21.30 WIB pada Sabtu (19/9) dalam rangka membangun kebiasaan hemat energi. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com — Sabtu malam, 19 September 2026, sebagian Jakarta sengaja dibuat lebih gelap. Selama satu jam, lampu di sejumlah tempat dimatikan. Bukan karena listrik padam, melainkan sebagai bagian dari aksi penghematan energi untuk memperingati Hari Ozon Sedunia.

Di balik suasana gelap selama 60 menit itu, ada dampak yang cukup nyata. Berdasarkan rekapitulasi PLN UID Jakarta Raya, aksi pemadaman lampu serentak pada pukul 20.30–21.30 WIB berhasil menghemat penggunaan listrik sebesar 92,79 megawatt-jam (MWh).

Penghematan energi tersebut turut menekan emisi karbon hingga 74,23 ton CO₂e di wilayah Provinsi DKI Jakarta.

Angka itu menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana, ketika dilakukan secara bersama-sama, dapat memberikan dampak terhadap lingkungan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan aksi satu jam tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus dilakukan melalui langkah besar.

“Aksi 1 jam ini mengingatkan kita bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa terwujud melalui kebiasaan sehari-hari,” kata Dudi dalam keterangan pers, Minggu.

Emisi berkurang

Selama satu jam, lampu yang tidak diperlukan dimatikan. Peralatan listrik yang tidak digunakan juga dapat dihentikan sementara. Energi yang biasanya terpakai pun berkurang.

Dari aksi tersebut, PLN mencatat penghematan biaya listrik mencapai Rp134.271.696.

Capaian penghematan energi kali ini juga lebih tinggi dibandingkan aksi serupa pada peringatan Hari Lingkungan Hidup, 13 Juni 2026. Saat itu, penghematan listrik tercatat 75,18 MWh.

Artinya, penghematan listrik pada aksi 19 September meningkat 23,42 persen dibandingkan kegiatan sebelumnya.

Bagi Dudi, angka tersebut bukan sekadar catatan teknis. Penghematan listrik sekaligus pengurangan emisi menunjukkan bahwa konsumsi energi memiliki hubungan langsung dengan upaya menjaga lingkungan.

Semakin bijak listrik digunakan, semakin kecil energi yang terbuang. Pada saat yang sama, emisi yang berkaitan dengan penggunaan energi juga dapat ditekan.

Kebiasaan kecil menjadi gerakan

Pemadaman selama satu jam memang tidak akan menyelesaikan persoalan perubahan iklim. Namun, aksi tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan baru.

Dudi mengajak masyarakat tidak berhenti setelah kegiatan pemadaman lampu berakhir. Penghematan energi justru perlu diterapkan dalam aktivitas sehari-hari, baik di rumah, kantor maupun tempat usaha.

Mematikan lampu di ruangan yang sedang kosong menjadi salah satu langkah paling sederhana. Begitu pula memanfaatkan cahaya matahari pada siang hari sehingga penggunaan lampu dapat dikurangi.

Perangkat elektronik dan pendingin ruangan juga perlu dimatikan setelah selesai digunakan. Kebiasaan kecil tersebut mungkin terlihat sepele jika dilakukan oleh satu orang. Namun, dampaknya dapat menjadi lebih besar ketika dilakukan secara bersama-sama.

“Matikan lampu yang tidak diperlukan dan gunakan peralatan listrik sesuai kebutuhan, merupakan langkah sederhana yang bisa kita lakukan bersama. Jika dijalankan secara konsisten, dipastikan manfaatnya terus bertambah,” ujar Dudi.

Bumi lebih sehat 

Aksi pemadaman lampu juga memperlihatkan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan teknologi mahal atau perubahan yang rumit. Mengurangi konsumsi energi yang tidak perlu merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan masyarakat setiap hari.

Karena itu, Dudi mengapresiasi masyarakat, pengelola gedung, pelaku usaha dan berbagai pihak yang ikut dalam aksi pemadaman serentak tersebut.

Pengelola gedung dan tempat usaha juga didorong mengatur penggunaan listrik berdasarkan kebutuhan dan waktu operasional, tanpa mengabaikan kenyamanan maupun keselamatan.

Satu jam pemadaman lampu mungkin berlangsung singkat. Namun, penghematan 92,79 MWh dan pengurangan 74,23 ton CO₂e menunjukkan bahwa satu tindakan bersama dapat menghasilkan dampak yang terukur.

Tantangan berikutnya bukan sekadar kembali menyalakan lampu setelah satu jam. Yang lebih penting adalah membawa semangat penghematan itu ke hari-hari berikutnya.

Sebab, Bumi yang lebih sehat tidak hanya dibangun dari aksi besar. Ia juga tumbuh dari kebiasaan sederhana: menggunakan listrik seperlunya, mematikan perangkat yang tidak digunakan, dan menyadari bahwa setiap energi yang dihemat berarti ada emisi yang bisa ditekan.

Read Entire Article
| | | |