jpnn.com, JAKARTA - Aktris Scarlett Johansson mengungkapkan tantangan yang dihadapinya sebagai aktris muda di industri Hollywood pada awal 2000-an yang dinilai sebagai periode penuh tekanan.
Dalam laporan Variety, Johansson menyebut masa tersebut sebagai era yang “sangat keras” bagi perempuan, terutama karena kuatnya penilaian terhadap penampilan fisik di industri hiburan.
Dalam wawancara dengan program CBS Sunday Morning, ia mengatakan tekanan terhadap aktris muda saat itu sangat tinggi, sementara peluang peran yang tersedia masih terbatas.
Menurut Johansson, perempuan seusianya kala itu sering kali hanya ditawari peran yang tidak beragam dan cenderung stereotip, dibandingkan dengan kondisi industri saat ini yang dinilai lebih inklusif.
Ia menilai kini terdapat lebih banyak peran yang memberdayakan perempuan muda, berbeda dengan awal kariernya yang kerap terjebak dalam satu tipe karakter tertentu.
“Biasanya hanya jadi perempuan lain, selingan, atau sosok seksi. Itu pola karakter yang dominan saat saya seusia itu,” ujarnya.
Johansson juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat mencari ruang alternatif di dunia teater di New York City untuk keluar dari pelabelan peran yang membatasi tersebut.
Pengalaman tersebut sekaligus mengajarkannya untuk lebih selektif dalam memilih proyek, termasuk berani menunggu peran yang dianggap tepat daripada menerima semua tawaran yang datang.




















































