jpnn.com, JAKARTA - Program digitalisasi sekolah yang digagas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim melalui pengadaan laptop Chromebook kembali menuai kritik tajam.
Sejumlah sekolah melaporkan bahwa perangkat tersebut kini tak lebih dari "pajangan" akibat buruknya infrastruktur penunjang di daerah.
Testimoni langsung datang dari para kepala sekolah di tingkat sekolah dasar (SD) yang mengaku kewalahan memaksimalkan bantuan tersebut.
Kepala Sekolah SD Negeri 9 Simu Timur Kaswin mengungkapkan kekecewaannya.
Meski sekolahnya menerima tiga unit Chromebook merek Acer pada tahun 2021, perangkat tersebut hingga kini sama sekali tidak bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
“Chromebook tersebut tidak bisa digunakan oleh guru dan siswa kami. Penyebab utamanya karena perangkat ini tidak dapat terhubung dengan jaringan internet di lokasi kami,” ujar Kaswin saat dihubungi media.
Kondisi serupa dialami oleh SD Negeri 9 Tanjung Sakti Pumi. Kepala Sekolah Intanmi menjelaskan bahwa ketiadaan sinyal internet di wilayahnya membuat Chromebook bermerek Zyrex yang mereka terima menjadi tidak berdaya.
Hal ini sangat berdampak pada pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK).





















































