jatim.jpnn.com, SURABAYA - Ratusan sopir truk menggeruduk kantor PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V di Surabaya, Rabu (29/4). Mereka memprotes pembatasan kuota hingga pemblokiran barcode pembelian solar subsidi yang dinilai mengganggu operasional.
Koordinator Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) Supriyono mengatakan persoalan tersebut sudah terjadi sejak 2024.
“Persoalan ini sebenarnya sudah lama, sejak 2024. Tiba-tiba barcode diblokir sehingga kawan-kawan tidak bisa mengisi solar atau jatahnya berkurang,” ujar Supriyono di sela aksi.
Menurut dia, sebelumnya sopir mendapat kuota sekitar 200 liter per hari. Namun kini kerap dipangkas hingga 100 liter.
Padahal, kebutuhan operasional truk bisa mencapai 300 hingga 400 liter dalam satu perjalanan, terutama untuk rute lintas pulau.
“Kalau dibatasi seperti ini, kami jelas terganggu. Padahal kami membeli dengan harga yang sama, bukan mengambil secara ilegal,” ucapnya.
Selain pembatasan, pemblokiran barcode juga disebut sering terjadi. Proses pemulihan pun memakan waktu lama, bahkan hingga berbulan-bulan. Kondisi itu berdampak langsung pada penghasilan sopir dan roda ekonomi keluarga mereka.
Meski begitu, GSJT mengaku memahami kebijakan pemerintah agar subsidi tepat sasaran. Namun, mereka meminta implementasi di lapangan tidak merugikan sopir.


















































